Quran
ﮍ
ﰹ
ﮍ
ﭖ ﭗ ﭘ ﭙ ٢ ٢
ﭛ ﭜ ٣ ٣ ﭞ ﭟ ﭠ ٤ ٤
ﭢ ﭣ ﭤ ﭥ ٥ ٥ ﭧ
ﭨ ﭩ ٦ ٦ ﭫ ﭬ ﭭ
ﭮ ﭯ ﭰ ﭱ
ﭲ ﭳ ٧ ٧
ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٢ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ٣ مَٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ ٤
Seolah-olah Allah berfirman, “Wahai hamba-hambaKu, bila kalian memuji dan mengagungkan atas dasar kesempurnaan dzat dan sifat, maka pujilah Aku, karena sesungguhnya Aku adalah Allah, apabila atas dasar kebaikan, pemeliharaan dan pelimpahan nikmat, maka sesungguhnya Aku adalah Rabb alam semesta, bila atas dasar harapan dan keinginan di masa mendatang, maka sesungguhnya Aku adalah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, bila atas dasar khauf (rasa takut), maka sesungguhnya Aku adalah Penguasa Hari Kiamat (hari pembalasan). (Al-Alusi, 1/81).
Pertanyaan: Apa petunjuk 4 sifat di awal surat al-Fatihah atas pujian bagi Allah?
بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ١ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٢ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ٣ مَٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ ٤ إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ ٥ ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦
Karena permintaan hidayah (bimbingan, petunjuk) ke jalan yang lurus adalah tujuan yang paling besar dan mendapatkannya adalah pemberian yang paling mulia, maka Allah mengajari hamba-hambaNya bagaimana memintanya dan memerintahkan mereka agar menyuguhkan di hadapanNya pujian dan sanjungan kepadaNya, pengagungan kepadaNya, kemudian Allah menyebutkan ubudiyah dan Tauhid mereka, ini adalah dua sarana untuk mewujudkan keinginan mereka, yaitu tawasul kepada Allah dengan nama-nama dan sifat-sifatNya dan tawasul kepada Allah dengan ubudiyah kepadaNya. Doa dengan dua sarana ini hampir tidak ditolak. (Ibnul Qayyim, 1/37).
Pertanyaan: Ayat menyebutkan sarana cara agar doa dikabulkan, apa kedua sarana tersebut?
إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ ٥
Allah menyebutkan permohonan pertolongan setelah ibadah padahal ia termasuk ke dalamnya, karena hamba selalu memerlukan pertolongan Allah dalam segala bentuk ibadah kepadaNya, bila Allah tidak menolongnya, maka apa yang diinginkan oleh hamba tidak terwujud, yaitu pelaksanaan perintah-perintah dan penjauhan dari larangan-larangan. (As-Sa’di, 39).
Pertanyaan: Memohon pertolongan adalah salah satu bentuk ibadah, mengapa Allah menyebutkannya secara khusus sesudah menyebutkan ibadah yang sebenarnya mencakup memohon pertolongan dan lainnya?
إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ ٥
Ibadah adalah tingkat ketundukan paling tinggi, secara syariat dan akal tidak boleh dilakukan kecuali karena Allah semata, karena hanya Allah yang berhak atasnya, karena Dia-lah yang melimpahkan nikmat-nikmat paling agung berupa kehidupan, eksistensi dan hal-hal yang berkaitan dengannya. (Al-Alusi, 1/86).
Pertanyaan: Mengapa ibadah dibatasi hanya untuk Allah semata?
إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ ٥ ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦
Kata نَعْبُدُ (kami menyembah) mengandung isyarat bahwa shalat didirikan bersama orang banyak (berjamaah). (Al-Biqa’i, 1/17).
Pertanyaan: Mengapa menyembah, memohon pertolongan dan berdoa dalam surat al-Fatihah diungkapkan dengan kami?
ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦
Hajat kebutuhan kepada hidayah lebih besar dari pada hajat kepada kemenangan dan rezeki, bahkan tidak ada perbandingan di antara keduanya, karena bila seseorang mendapatkan hidayah, maka dia termasuk orang-orang yang bertakwa dan siapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberi-nya jalan keluar dan memberinya rezeki dari jalan yang tidak dia duga. (Ibnu Taimiyah, 1/116).
Pertanyaan: Mengapa hajat kebutuhan kepada hidayah lebih besar dibandingkan hajat kebutuhan kepada kemenangan dan rezeki?
ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦
Keteguhan langkah seorang hamba di atas shirath (jembatan) yang terbentang di atas Neraka Jahannam tergantung kepada keteguhan kaki hamba di atas jalan yang Allah tegakkan bagi hamba-hambaNya di alam ini. Perjalanan hamba di atas shirath (jembatan) yang terbentang di atas api neraka Jahanam tergantung kepada perjalanannya di atas jalan Allah di dunia ini. Di antara mereka ada yang berjalan seperti kilat, ada yang berjalan seperti kedipan mata. Hendaknya seorang hamba mengukur perjalanannya di atas shirath tersebut dengan perjalanannya di atas jalan ini, layaknya satu bulu anak panah yang menyerupai bulu anak panah lainnya sebagai balasan yang sesuai. “Kalian tidak dibalas kecuali apa yang kalian perbuat.” (Ibnul Qayyim, 1/35).
Pertanyaan: Apa hubungan antara berpegang teguhnya seorang hamba dengan jalan Allah yang lurus di dunia ini dengan perjalanannya di atas shirath di akhirat?